A.Latar belakang
1.Kota konstatinopel ke jatuh ke tangan bangsa turki pada 1453 M. Sehingga rempah-rempah di eropa menjadi mahal karena jumlahnya dibatasi oleh turki, hal inilah yang membuat bangsa-bangsa eropa berusaha mencari ke dunia timur.
2.Faktor ekonominya ingin mendapatkan rempah-rempah dengan harga murah, sehingga langsung datang ke asalnya.
3. Dikuasainya portugis oleh spanyol (1580) sehingga Belanda mengalami kesulitan mencari rempah rempah di pelabuhan portugis
B.Pelopor
1.Cornelis de Houtman
Cornelis de Houtman lahir di Gouda, Belanda, 2 April 1565 dan tewas di Aceh, 1599. Ia merupakan seorang penjelajah Belanda yang menemukan jalur pelayaran dari Eropa ke Nusantara dan berhasil memulai perdagangan rempah-rempah bagi Belanda.
Pada tahun 1592 Cornelis de Houtman dikirim oleh para saudagar Amsterdam ke Lisboa/Lisbon, Portugal untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai keberadaan "Kepulauan Rempah-Rempah". Ekspedisi de Houtman sudah direcoki banyak masalah sejak awal. Penyakit sariawan merebak akibat kurangnya makanan, pertengkaran di antara para kapten kapal dan para pedagang menyebabkan beberapa orang terbunuh atau dipenjara. Di sebuah Teluk di Madagaskar (sekarang lebih di kenal dengan “Kuburan Belanda”), sebuah perhentian sesaat direncanakan, masalah lebih lanjut menyebabkan kematian lagi, dan kapal-kapalnya bertahan di sana selama enam bulan.
Pada 27 Juni 1596, ekspedisi de Houtman tiba di Banten. Hanya 249 orang yang tersisa dari pelayaran awal. Penerimaan penduduk awalnya bersahabat, tapi setelah beberapa perilaku kasar yang ditunjukkan awak kapal Belanda, Sultan Banten bersama dengan orang-orang Portugis yang telah datang lebih dulu di Banten, mengusir rombongan “Wong Londo” ini.
Ekspedisi de Houtman berlanjut ke utara pantai Jawa. Namun kali ini, kapalnya takluk ke pembajak. Saat tiba di Madura perilaku buruk rombongan ini berujung ke salah pengertian dan kekerasan. Kapal-kapal tersebut lalu berlayar ke Bali, dan bertemu dengan raja Bali. Mereka akhirnya berhasil memperoleh beberapa pot merica pada 26 Februari 1597.
Saat dalam perjalanan pulang ke Belanda, mereka singgah di Kepulauan St. Helena, dan kedatangan mereka ini dihadang oleh kapal-kapal Portugis yang merupakan pesaing mereka. Akhirnya pada akhir 1597, tiga dari empat kapal ekspedisi ini kembali dengan selamat ke Belanda. Dari 249 awak, hanya 87 yang berhasil kembali.
Akibat dari ekspedisi de Houtman meski perjalanan ini bisa dibilang gagal, namun juga dapat dianggap sebagai kemenangan bagi Belanda. Pihak Belanda sejak saat itu mulai berani berlayar untuk berdagang ke Timur terutama di tanah Nusantara.
Tahun 1598, Cornelis de Houtman bersama saudaranya Frederick de Houtman diutus lagi ke tanah Nusantara di mana kali ini ekspedisinya merupakan ekspedisi dalam jumlah besar. Armada-armadanya telah dipersenjatai seperti kapal perang. Pada awalnya mendapat sambutan baik dari pihak Aceh, karena darinya diharapkan akan dapat dibangun kerjasama perdagangan yang saling menguntungkan, namun dalam perkembangannya, akibat adanya hasutan dari pihak Portugis yang telah lebih dahulu berdagang dengan Kerajaan Aceh, sehingga Sultan Aceh menjadi tidak senang dan memerintahkan untuk menyerang kapal-kapal mereka. Dalam penyerangan ini, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya tewas sementara Frederick de Houtman ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Frederick de Houtman mendekam dalam tahanan Kerajaan Aceh selama 2 tahun.
2.Jacob Van Neck
Ekspedisi Kedua Belanda ke Indonesia adalah sebuah ekspedisi yang berlangsung dari 1598 hingga 1600, salah satu penyerangan tiba-tiba Belanda terhadap perdagangan rempah yang menyebabkan pendirian Perusahaan Hindia Timur Belanda. Ekspedisi ini dipimpin oleh Jacob Cornelius van Neck. Laksamana Jacob van Neck terpilih sebagai pemimpin, dengan Wakil Laksamana Wybrand van Warwyck dan penjelajah Arktika Jacob van Heemskerck sebagai letnannya. Yang juga naik kapal tersebut adalah Willem Janszoon.
Pada 1 Mei 1598, armada tersebut berlayar dari Texel. Setelah berlayar selama tujuh bulan, Van Neck dan ketiga kapalnya sampai di kota perdagangan Banten pada 25 November. Van Neck segera mengisi salah satu dari empat kapal yang dibawa oleh Warwyck dengan rempah-rempah dan kemudian berlayar pulang dengannya dan tiga kapal lainnya yang telah diisinya.
Dia tiba di Amsterdam pada Juli 1599, perjalanannya memakan waktu setengah dari lamanya ekspedisi de Houtman. Para awak kapal diarak melewati jalan-jalan di belakang rombongan sangkakala seraya semua lonceng di kota berdentang, kemudian diberi anggur sebanyak yang bisa mereka minum, sementara Van Neck dianugerahkan sebuah gelas emas. Van Neck membawa pulang hampir satu juta pon lada dan cengkih, serta setengah kapal berisi pala, lawang, dan kayu manis.
Dia pensiun dari menjelajahi setelah itu, dan kemudian menjadi walikota Amsterdam, dan anggota dewan kotapraja , dan anggota dari dua perguruan tinggi admiralty. Dia meninggal pada tanggal 8 Maret 1638.
C.Tujuan Pelayaran
Tujuan:
a.Mencari rempah-rempah;
b.Menyalurkan jiwa penjelajah;
c.Mencari kemuliaan bangsa :
- Gold
- Glory
- Gospel;
d.Berdagang.
D.Perjalanan Pelayaran
Mendengar keberhasilan penjelajahan orang-orang Spanyol dan juga penjelajahan Portugis dalam menemukan daerah baru, apalagi daerah penghasil rempah-rempah, para pelaut dan pedagang Belanda tidak mau ketinggalan.
Tahun 1594 Willem Barentsz mencoba penjelajahan berlayar untuk mencari dunia Timur atau Tanah Hindia melalui daerah samudra kutub utara. Karena keyakinannya bahwa bumi bulat, maka sekalipun penjelajahan dari utara atau penjelajahan barat akan sampai pula di samudra timur. Willem Barentsz Ternyata tidak begitu mengenal medan. Ia gagal melanjutkan penjelajahannya karena kapalnya terjepit es mengingat air samudra di kutub utara sedang membeku. Barents terhenti di sebuah pulau yang disebut Novaya Zemlya. Ia berusaha kembali ke negerinya Belanda, tetapi ia meninggal di perjalanan penjelajahan tersebut.
Pada tahun 1595 pelaut Belanda yang lain yakni Cornelis de Houtman dan Piter de Keyser memulai pelayaran samudra. Kedua pelaut Belanda ini bersama armadanya dengan kekuatan empat kapal dan 249 awak kapal beserta 64 pucuk meriam melakukan pelayaran dan penjelajahan samudra untuk mencari rute tanah Hindia yang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah. Cornelis de Houtman mengambil rute jalur samudra laut yang sudah biasa dilalui orang-orang Portugis. Rute ini menempuh jalur yang diawali dengan menyusuri Samudera Atlantik ke selatan, mengitari benua Afrika di Tanjung Harapan, lalu mengarah ke utara untuk menyusuri pesisir timur Afrika menuju India dan Selat Malaka, atau menyusuri Madagaskar dan Samudera Hindia untuk menuju Selat Sunda. Rute Madagaskar inilah yang digunakan oleh Cornelis de Houtman dalam perjalanan pertamanya menuju Indonesia pada tahun 1595. Tahun 1596 Cornelis de Houtman beserta armadanya berhasil mencapai Kepulauan Nusantara. Ia dan rombongan mendarat di Banten.
Sesuai dengan niatnya untuk berdagang maka kehadiran Cornelis de Houtman diterima baik oleh rakyat. Waktu itu di Kerajaan Banten bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Abdul Mufakir Mahmud Abdulkadir. Dengan melihat pelabuhan Banten yang begitu strategis dan adanya hasil tanaman rempah-rempah di wilayah itu Cornelis de Houtman berambisi untuk memonopoli perdagangan di Banten untuk Belanda. Dengan kesombongan dan kadang-kadang berlaku kasar, orang-orang Belanda memaksakan kehendaknya. Hal ini tidak dapat diterima oleh rakyat dan penguasa bangsa Banten. Oleh karena itu, rakyat mulai membenci bahkan kemudian mengusir orang-orang Belanda itu.
Ekspedisi de Houtman berlanjut ke utara pantai Jawa. Namun kali ini, kapalnya takluk ke pembajak. Saat tiba di Madura perilaku buruk rombongan ini berujung ke salah pengertian dan kekerasan: seorang pangeran di Madura terbunuh sehingga beberapa awak kapal Belanda ditangkap dan ditahan sehingga de Houtman membayar denda untuk melepaskannya. Kapal-kapal tersebut lalu berlayar ke Bali, dan bertemu dengan raja Bali. Mereka akhirnya berhasil memperoleh beberapa pot merica pada 26 Februari 1597.
Ekspedisi penjelajahan Belanda berikutnya segera dipersiapkan untuk kembali menuju rute Kepulauan Nusantara. Rombongan kali ini dipimpin antara lain oleh van Heemskerck. Tahun 1598 van Heemskerck dengan armadanya sampai di Nusantara dan juga mendarat di Banten. Heemskerck dan anggotanya bersikap hati-hati dan lebih bersahabat. Rakyat Banten pun kembali menerima kedatangan orang-orang Belanda. Belanda mulai melakukan aktivitas perdagangan. Kapal-kapal bangsa mereka mulai berlayar ke timur dan singgah di Tuban. Dari Tuban penjelajahan pelayaran dilanjutkan ke rute timur menuju Maluku.
Di bawah pimpinan Jacob van Neck, penjelajahan mereka sampai di Maluku pada tahun 1599. Kedatangan orang-orang Belanda ini juga diterima baik oleh rakyat Maluku. Kebetulan waktu itu Maluku sedang konflik dengan orang-orang Portugis. Pelayaran dan perdagangan orang-orang bangsa Belanda di Maluku ini mendapatkan keuntungan yang berlipat. Jacob Van Neck membawa pulang hampir satu juta pon lada dan cengkih, serta setengah kapal berisi pala, lawang, dan kayu manis. Dengan demikian semakin banyak penjelajahan kapal-kapal dagang yang berlayar menuju Maluku.
E.Wilayah Kekuasaan
1.Bali
Belanda berhasil memperoleh beberapa pot merica di Bali pada 26 Februari 1597, pada saat setelah Cornelis de Houtman di usir dari banten
2.Banten
Belanda diterima baik oleh masyarakat banten dan belanda mulai perdagangannya, pada saat masa pelayarannya Van Heemskerck ke Nusantara
3.Maluku
Jacob Van Neck membawa pulang hampir satu juta pon lada dan cengkih, serta setengah kapal berisi pala, lawang, dan kayu manis.
F.Akhir pelayaran
1.Cornelis de Houtman
Ekspedisi pertama Cornelis biaa di bilang gagal, namun itu merupakan pendorong bangsa belanda untuk ke berani menjelajah ke dunia Timur. Lalu, pada saat Cornelis kembali lagi ke Nusantara, tepatnya di Aceh, Sultan Aceh di hasut oleh pihak portugis dan akhirnya melakukan penyerangan hingga akhirnya Cornelis pun meninggal.
2.Jacob Van Neck
Jacob membawa pulang hampir satu juta pon lada dan cengkih, serta setengah kapal berisi pala, lawang, dan kayu manis di Banten dan Maluku ef. Saat Jacob kembali lagi atau pulang ke Amsterdam di Belanda, Jacob di arak-arak keliling Amsterdam, diberi gelas emas, dan diberi anggur karena telah membawa banyak sekali rempah-rempah. Setelah itu, Jacob pensiun dan tinggal di Amsterdam hingga kematiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar